Penipuan marak terjadi di lingkungan perguruan tinggi negeri (PTN) dan swasta (PTS), beberapa minggu belakangan. Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah IV Jawa Barat-Banten Abdul Hakim Halim dan Kepala Dinas Pendidikan Jabar Wachyudin Zarkasyi adalah dua pejabat yang kerap dicatut namanya. Modusnya, dosen atau pemimpin PT dihubungi orang yang mengaku kedua pejabat tersebut dan menawari mereka mengikuti seminar. Ujung-ujungnya, korban diminta mentransfer sejumlah uang ke rekening pelaku.
Hakim mengungkapkan, dalam dua pekan terakhir, sepuluh laporan penipuan dengan modus serupa datang dari para pemimpin PTS atau dosen. “Saya sendiri secara pribadi telah menerima empat laporan. Staf saya yang lain menerima lebih banyak lagi laporan,” ujarnya, Senin (8/6), di ruang kerja Jln. P.H.H. Mustopa Bandung.
Hakim menjelaskan, modus yang dipakai penipu selalu sama, yakni dengan mengaku sebagai staf Kopertis dan menawari dosen atau pemimpin PTS untuk mengikuti seminar. Selanjutnya, korban dirujuk untuk menghubungi sebuah nomor telefon seluler yang diklaim sebagai milik Hakim, selaku Koordinator Kopertis. Lewat percakapan di telefon inilah, korban digiring untuk mentransfer uang hingga puluhan juta rupiah.
Menurut Hakim, hingga saat ini belum ada korban yang telanjur mentransfer uang. Tetapi mengingat masifnya jumlah korban yang melapor, dia mengaku cukup khawatir. “Pemimpin dan dosen PTS saya harapkan lebih waspada. Selalu cek ulang setiap informasi,” katanya.
Usaha penipuan tidak hanya terjadi di lingkungan PTS. Dosen-dosen PTN pun menjadi korban. Humas Universitas Padjadjaran Bandung Weni Widyowati menyebut adanya beberapa laporan usaha penipuan yang dialami dosen dan guru besar di Kampus Unpad. Korban diiming-imingi penawaran seminar di Bali atau kemudahan menjadi staf ahli di salah satu departemen.
Salah seorang pejabat Unpad yang dihubungi pelaku penipuan adalah Sucherly, Ketua Program Doktor Manajemen Bisnis. Sucherly mengaku dihubungi pada Jumat (15 /6) dan dinyatakan terpilih sebagai delegasi Unpad untuk mengikuti seminar selama tiga hari di Bali. Pelaku mencatut nama Kadisdik Jabar Wachyudin Zarkasyi yang pernah menjabat sebagai Pembantu Rektor II Unpad.
“Semua biaya ditanggung, saya tinggal berangkat saja. Tapi untuk informasi lebih detail, saya diminta untuk menelepon Kadisdik. Dia memberi saya nomor handphone yang katanya nomor baru Kadisdik Jabar,” kata Sucherly.
Sang Kadisdik palsu itu, menurut Prof. Sucherly, langsung menginformasikan kegiatan seminar di Bali dan meyakinkan korban bahwa seminar benar-benar gratis. Sesudah itu pelaku lagi-lagi menyarankan korban menelefon nomor lain yang kali ini diklaim sebagai nomor handphone Dirjen Dikti, Fasli Jalal.
Menurut Weni, modus penipuan serupa ini sebelumnya pernah dialami para lulusan Unpad. Pelaku menghubungi mereka dengan menawarkan pekerjaan. Tetapi sejak ada edaran peringatan resmi dari kampus lewat selebaran saat wisuda, praktik ini berangsur menghilang. “Semoga penipuan ini disikapi serius, sebab tidak menutup kemungkinan kampus lain juga akan diincar nantinya,” ucapnya. (A-165)
Adakah teman2 yang sudah kena..?
betul pak…